tentang aku dan dia

tentang aku dan dia
11 nov 2010

Rabu, 17 Oktober 2012

Makalah BBLR



Makalah Bayi Prematur/BBLR
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Periode segera setelah lahir merupakan awal dari kehidupan yang tidak menyenangkan bagi bayi. Hal tersebut disebabkan oleh perbedaan antara lingkungan kehidupan sebelumnya dan sekarang.
Bagi bayi prematur atau bayi yang lahir disertai penyulit atau komplikasi, tentunya proses adaptasi ini akan menjadi lebih sulit untuk dilaluinya. Bahkan, seringkali menjadi pemicu timbulnya komplikasi lain yang menyebabkan bayi tersebut tidak mampu melanjutkan kehidupan ke fase lanjut (meninggal).
Bayi berat badan lahir rendah atau prematur mempunyai kemungkinan lebih besar untuk menderita sakit atau kematian daripada bayi lain. Oleh karenanya, diperlukan pengawasan ekstra yang dilakukan beberapa jam sampai beberapa hari setelah bayi itu dilahirkan.
Penilaian dan tindakan pada bayi berat badan lahir rendah sangatlah penting karena dapat mencegah terjadinya gangguan kesehatan pada bayi yang dapat menimbulkan cacat atau kematian.
B. Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah :
1. Untuk meningkatkan pengetahuan pembaca mengenai bayi berat badan lahir rendah (BBLR)
2. Pembaca mengetahui dan mampu mengaplikasikan bagaimana penatalaksanaan maupun rencana asuhan keperawatan yang dapat diberikan terhadap bayi berat badan lahir rendah (BBLR)






BAB II
ISI
A. Definisi
Bayi berat badan lahir rendah ( BBLR ) dapat dikelompokkan menjadi :
1. Bayi Prematur atau Bayi Pre-Term
Bayi yang berumur kehamilan 37 minggu tanpa memperhatikan berat badan. Sebagian besar bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 2500 gram adalah bayi prematur.
Menurut WHO, bayi prematur adalah bayi lahir hidup sebelum usia kehamilan minggu ke-37 (dihitung dari hari pertama haid terakhir). The American Academy Of Pediatric, mengambil batasan 38 minggu untuk menyebut prematur.
2. Bayi Dismatur
Bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari berat badan yang seharusnya untuk masa kehamilannya, yaitu berat badan dibawah persentil 0 pada kurva pertumbuhan intra uterin, bisa disebut dengan bayi kecil untuk masa kehamilan.



B. Etiologi
Ada tiga faktor yang menjadi penyebab kelahiran bayi BBLR, yakni :
1. Faktor ibu
a. Toksemia gravidarum, yaitu preeklampsi dan eklampsi
b. Kelainan bentuk uterus (misalnya uterus bikornis, inkompeten serviks)
c. Tumor (misalnya mioma utery, sistoma)
d. Ibu yang menderita penyakit antara lain :
1) Akut dengan gejala panas tinggi (misalnya tifus abdominalis, malaria)
2) Kronis (misalnya TBC, penyakit jantung, gromerulonefritis kronis)
e. Trauma pada masa kehamilan antara lain :
1) Fisik (misalnya jatuh)
2) Psikologis (misalnya stress)
f. Usia ibu pada waktu hamil kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun
2. Faktor janin
a. Kehamilan ganda
b. Hidramnion
c. Ketuban pecah dini
d. Cacat bawaan
e. Infeksi (misalnya rubeoll, sifilis, toksoplasmosis)
f. Insufisiensi plasenta
g. Inkomptibilitas darah ibu dan janin ( faktor Rhessus, golongan darah A, B dan O)
3. Faktor plasenta
a. Plasenta previa
b. Solutio plasenta


C. Manifestasi Klinis
Tanda klinis atau penampilan yang tampak sangat bervariasi, bergantung pada usia kehamilan saat bayi dilahirkan. Makin prematur atau makin kecil umur kehamilan saat dilahirkan makin besar pula perbedaannya dengan bayi yang lahir cukup bulan.
Adapun tanda dan gejala dari bayi prematur adalah :
1. Umur kehamilan sama dengan atau kurang dari 37 minggu
2. Berat badan sama dengan atau kurang dari 2500 gram
3. Panjang badan sama dengan atau kurang dari 46 cm
4. Kuku panjangnya belum melewati ujung jari
5. Batas dahi dan rambut kepala tidak jelas
6. Lingkar kepala sama dengan atau kurang dari 33 cm
7. Lingkar dada sama dengan atau kurang dari 30 cm
8. Rambut lnugo (bulu-bulu halus) masih banyak
9. Jaringan lemak subkutan tipis atau kurang
10. Tulang rawan daun telinga belum sempurna pertumbuhannya, sehingga seolah-olah tidak teraba tulang rawan daun telinga
11. Tumit mengkilap dan telapak kaki halus
12. Alat kelamin pada bayi laki-laki pigmentsi dan ruge pada skrotum kurang. Testis belum turun ke dalam skrotum. Untuk bayi perempuan klitoris menonjol, labia minor belum tertutup oleh labia mayor.
13. Tonus otot lemah, sehingga bayi kurang aktif dan pergerakannya lemah.
14. Fungsi saraf yang belum atau kurang matang, mengakibatkan refleks isap, menelan dan batuk masih lemah atau tidak efektif, dan tangisnya lemah.
15. Jaringan kelenjar mamae masih kurang akibat pertumbuhan otot dan jaringan lemak masih kurang.
16. Verniks kaseosa tidak ada atau sedikit.


D. Patofisiologi
Berdasarkan beberapa faktor etiologi yang telah disebutkan, hal itu akan menyebakan gangguan sirkulasi utero plasenta. Akibatnya, akan terjadi insufisiensi plasenta, yang menyebabkan suplai nutrisi dan oksigen ke janin tidak adekuat. Hal ini lama-kelamaan akan menyebabkan gangguan pertumbuhan intra uteri dan lahirlah bayi BBLR.
Neonatus dengan imaturitas pertumbuhan dan perkembangan atau bayi BBLR tidak dapat menghasilkan kalori melalui peningkatan metabolisme. Hal ini disebabkan karena respon menggigil bayi tidak ada atau kurang, sehingga tidak dapat menambah aktivitas. Sumber utama kalori bila ada stress dingin atau suhu lingkungan rendah adalah thermogenesis nonshiver. Sebagai respon terhadap rangsangan dingin, tubuh bayi akan mengeluarkan norepinefrin yang menstimulus metabolisme lemak dari cadangan lemak coklat untuk menghasilkan kalori yang kemudian dibawa oleh darah ke jaringan. Stres dingin dapat menyebabkan hipoksia, metabolisme asidosis dan hipoglikemia. Peningkatan metabolisme sebagai respon terhadap stre dingin akan meningkatkan kebutuhan kalori dan oksigen. Bila oksigen yang tersedia tidak dapat memenuhi kebutuhan, tekanan oksigen berkurang (hipoksia) dan keadaan ini akan menjadi lebih buruk karena volume paru menurun akibat berkurangnya oksigen darah dan kelainan paru (paru yang imatur). Keadaan ini dapat sedikit tertolong oleh haemoglobin fetal (HbF) yang dapat mengikat oksigen lebih banyak sehingga bayi dapat bertahan lebih lama pada kondisi tekanan oksigen yang kurang.



E. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan pada bayi berat badan lahir rendah atau prematur dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu :
1. Perawatan bayi dalam inkubator
Inkubator adalah suatu alat untuk membantu terciptanya suatu lingkungan yang optimal, denfan demikian dapat terciptanya suatu suhu lingkungan yang normal. Suhu lingkungan yang netral adalah suatu keadaan dimana panas yang dihasilkan dapat mempertahankan suatu suhu tubuh yang tetap.
2. Perawatan post resusitasi
Dilakukan untuk mengatasi terjadinya asfiksia, yang dapat memperburuk keadaan bayi lahir prematur
3. Perawatan bayi dengan terapi sinar
Dalam perawatan ini yang perlu diperhatikan tidak saja terapinya, tetapi juga perangkat yang digunakan. Lampu yang digunakan sebaiknya tidak dipergunakan lebih dari 500 jam, untuk menghindari turunnya energi yang dihasilkan oleh lampu yang dipergunakan.
4. Menyiapkan bayi untuk transfusi tukar
Yang dimaksud dengan transfusi tukar adalah mengeluarkan darah dari tubuh bayi untuk ditukar dengan darah yang tidak sesuai (patologis) untuk mencegah peningkatan kadar bilirubin dalam darah.
5. Menolong bayi dalam keadaan kejang







F. Penyimpangan KDM


























G. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
a. Masalah yang berkaitan dengan ibu
Penyakit seperti hipertensi, toksemia, placenta previa, abrupsio placenta, incompeten servikal, kehamilan kembar, mal nutrisi dan diabetes mellitus. Status social ekonomi yang rendah dan tiadanya perawatan sebelum kelahiran. Riwayat kelahiran premature atau aborsi, penggunaan obat-obatan, seperti alcohol, rokok dan kafein. Riwayat ibu ; umur dibawah 16 tahun atau diatas 35 tahun dan latar belakang pendidikan rendah, jarak kehamilan yang berdekatan, ataupun penyakit hubungan seksual.
b. Bayi pada saat kelahiran
Umur kehamilan biasanya antara 24-37 minggu, rendahnya berat badan pada saat kelahiran, SGA, atau terlau besar di banding umur kehamilan ; berat biasanya kurang dari 2500 gr ; kurus, lapisan lemak subkutan sedikit atau tidak ada ; kepala relative lebih besar disbanding badan, 3 cm lebih besar dibanding lebar dada ; kelainan fisik yang mungkin terlihat ; nilai APGAR pada satu sampai lima menit, 0-3 menunjukkan kegawatan yang parah, 4-6 kegawatan sedang, dan 7-10 normal.
c. Kardiovaskular
Denyut jantung rata-rata 120-160/menit pada bagian apical dengan ritme yang teratur ; pada saat kelahiran, kebisingan jantung terdengar pada seperempat bagian intercostals, yang menunjukkan aliran darah dari kanan ke kiri karena hipertensi atau atelektasis paru.
d. Gastrointestinal
Penonjolan abdomen ; pengeluaran mekonium biasanya terjadi dalam waktu 12 jam; refleks menelan dan menghisap yang lemah ; ketidaknormalan konginetal lain.


e. Integumen
Kulit yang bewarna merah atau merah muda, kekuning-kuningan, sianosis atau campuran bermacam warna ; sedikit vernik kasiosa, dengan rambut lanugo di sekujur tubuh ; kurus, kulit tampak transparan, halus dan mengkilat ; edema yang menyeluruh atau dibagian tertentu yang terjadi pada saat kelahiran, kuku pendek belum melewati ujung jari, rambut jarang atau tidak ada sama sekali, ptekie atau ekimosis.
f. Muskuloskeletal
Tulang kapilago telinga belum tumbuh sempurna, lembut dan lunak ; tulang tengkorak dan tulang rusuk lunak ;gerakan lemah dan tidak aktif atau letargi.
g. Neurologis
Refleks dan gerakan pada tes neurologis tanpa tidak resisten, gerak refleks hanya berkembang sebagian ; menelan, mengisap, dan batuk sangat lemah atau tidak efektif ; tidak ada atau menurunnya tanda neurologis ; mata mungkin menutup atau mengatup apabila umur belum mencapai 25 sampai 26 ; suhu tubuh tidak stabil, biasanya hipotermia ; gemetar, kejang, mata berputar-putar, biasanya bersifat sementara, tetapi mungkin juga ini mengindikasikan adanya kelainan neurologis.
h. Paru
Jumlah pernapasan rata-rata antara 40 sampai 60 permenit diselingi dengan apnea ; pernapasan tidak teratur, dengan laring nasal (nasal melebar), dengkuran, retraksi (interkostal, suprasternal, substernal) ; terdengar gemerisik.
i. Ginjal
Berkemih terjadi setelah 8 jam kelahiran ; ketidak mamapuan untuk melarutkan ekskresi kedalam urin.


j. Reproduksi
Bayi perempuan; Clitoris yang menonjol dengan labia minora yg belum berkembang; bayi laki-laki: skrotum yg belum berkembang sempurna dengan ruga yang kecil. Testis tidak turun ke skrotum.
k. Sikap
Tangis yang lemah, tidak aktif dan tremor.
2. Diagnosa Keperawatan
a. Pola nafas tak efektif b/d ketidakmatangan paru karena kurangnya produksi surfaktan
b. Kerusakan pertukaran gas b/d ketidakadekuatan kadar surfaktan, imaturitas otot arteriol pulmonal, SSP dan sistem neuromuskular.
c. Resti hipotermia atau hipertermia b/d perubahan suhu lingkungan
d. Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh b/d simpanan glikogen, zat besi dan kalsium tidak cukup, metabolisme yang tinggi, hilangnya kalori dan asupan kalori yang tidak adekuat.
e. Resti injuri b/d retardasi pertumbuhan intra uteri
3. Intervensi Keperawatan dan Rasional
a. Resti pola nafas tak efektif b/d ketidakmatangan paru karena kurangnya produksi surfaktan.
1) Tujuan : Menjaga dan memaksimalkan fungsi paru
2) Intervensi dan Rasional
- Kaji pola pernafasan dan frekuensi pernafasan
Membantu dalam membedakan periode perputaran pola pernafasan normal dari serangan apnea
- Posisikan bayi pada abdomen atau posisi telentang dengan gulungan popok di bawah bahu untuk menghasilkan sedikit hiperekstensi
Posisi ini dapat memudahkan pernafasan dan menurunkan periode apneik
- Pertahankan suhu tubuh optimal
Peningkatan atau oenurunan suhu lingkungan dapat menimbulkan apnea
- Berikan rangsang taktil segera bila terjadi apnea
Merangsang SSP untuk meningkatkan gerakan tubuh dan kembalinya pernafasan spontan
b. Kerusakan pertukaran gas b/d ketidakadekuatan kadar surfaktan, imaturitas otot arteriol pulmonal, SSP dan sistem neuromuskular.
1) Tujuan : mempertahankan kadar PO2/PCO2 dalam batas normal
2) Intervensi dan Rasional
- Kaji status pernafasan, perhatikan tanda-tanda distres pernafasan
Mengidentifikasi adanya gangguan pada pola ataupun frekuensi pernafasan
- Pertahankan kenetralan suhu tubuh pada 36-37o C
Stres dingin meningkatkan konsumsi oksigen bayi, dapat meningkatkan asidosis dan selanjutnya kerusakan produksi surfaktan
- Observasi terhadap tanda dan lokasi sianosis
Sianosis merupakan tanda lanjut dari penurunan PO2 dan tidak tampak sampai ada sedikit lebih dari 3 g/dl penurunan Hb
- Berkolaborasi dalam pemberian oksigen
Hipoksemia dapat berlanjut menurunkan produksi surfaktan, meningkatkan tahanan vaskular pulmonal dan vasokontriksi.
c. Resti hipotermia atau hipertermia b/d perubahan suhu lingkungan
1) Tujuan : mempertahankan suhu kulit 36-37,3o C
bebas dari tanda-tanda stres dingin
2) Intervensi dan Rasional
- Kaji suhu dengan sering
Hipotermia membuat bayi cenderung pada stres dingin, penggunaan simpanan lemak coklat yang tidak dapat diperbaharui bila ada dan penurunan sensitivitas untuk meningkatkan kadar karbondioksida ataupun oksigen.
- Gunakan lampu pemanas selama prosedur dan berikan selimut
Menurunkan kehilangan panas pada lingkungan yang lebih dingin dari ruangan
- Ganti pakaian atau linen tempat tidur bila basah. Pertahankan kepala bayi tetap tertutup
Menurunkan kehulangan melalui evaporasi
- Berikan penghangatan bertahap untuk bayi dengan stres dingin
Peningkatan suhu tubuh yang cepat dapat menyebabkan konsumsi oksigen berlebihan dan apnea.
d. Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh b/d simpanan glikogen, zat besi dan kalsium tidak cukup, metabolisme yang tinggi, hilangnya kalori dan asupan kalori yang tidak adekuat.
1) Tujuan : mempertahankan pertumbuhan dan peningkatan BB dalam kurva normal, dengan peningkatan BB sedikitnya 20-30 gr/hari
2) Intervensi dan Rasional
- Kaji maturitas refleks berkenaan dengan pemberian makan
Menentukan metode pemberian makan yang tepat untuk bayi
- Mulai pemberian makan sementara atau dengan menggunakan selang sesuai indikasi
Pemberian makan per slang mungkin perlu untuk memberikan nutrisi yang adekuat pada bayi
- Masukkan asi/formula dengan perlahan selama 20 menit pada kecepatan 1 ml/mnt
Pemasukkan makana yang terlalu cepat ke dalam lambung dapat menyebabkan respon balik cepat dengan regurgitasi, peningkatan resiko aspirasi dan distensi abdomen

e. Resti kekurangan volume cairan b/d kehilangan cairan berlebihan, peningkatang suhu lingkungan, ginjal imatur
1) Tujuan : bebas dari tanda-tanda dehidrasi atau glikosuria dengan masukan cairan sama dengan haluaran
2) Intervensi dan Rasional
- Dapatkan seri BB setiap hari dengan skala yang sama pada waktu yang sama
BB merupakan indikator paling sensitif dari keseimbangan cairan
- Bandingkan masukan dan haluaran cairan setiap shift dalam periode 24 jam
Haluaran harus 1-3 ml/kg/jam, sementara kebutuhan terapi cairan ± 80-100 ml/kg/hari pada hari pertama kehidupan, meningkat sampai 120-140 ml/kg/hari pada hari ketiga pasca-kelahiran
- Evaluasi turgor kulit, membran mukosa dan fontanel anterior
Kehilangan/perpindahan cairan yang minimal dapat dengan cepat menimbulkan dehidrasi, terlihat oleh turgor kulit yang buruk, membran mukosa kering dan fontanel cekung.
- Pantau pemeriksaan laboratorium Ht
dehidrasi meningkatkan kadar Ht di atas nilai normal 45%-53%
- Berikan cairan paenteral
Penggantian cairan menambah volume darah
f. Resti injuri b/d retardasi pertumbuhan intra uteri
1) Tujuan : bebas dari kejang dan tanda-tanda kerusakan SSP
2) Intervensi dan Rasional
- kaji upaya pernafasan. perhatikan adanya pucat atau sianosis
distres pernafasan dan hipoksia mempengaruhi fungsi serebral dan dapat merusak atau melemahkan dinding pembuluh darah serebral, meningkatkan resiko ruptur
- ukur lingkar kepala, sesuai indikasi
membantu mendeteksi kemungkinan peningkatan TIK atau hidrosefalus, yang mungkin merupakan akibat dari hemoragi subdural
- berikan oksigen
hipoksemia meningkatkan resiko kelemahan atau kerusakan SSP yang permanen
























BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Bayi berat badan lahir rendah ( BBLR ) dapat dikelompokkan menjadi 2, yaitu Bayi Prematur atau Bayi Pre-Term dan Bayi Dismatur. Bayi prematur adalah bayi yang berumur kehamilan 37 minggu tanpa memperhatikan berat badan. Sebagian besar bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 2500 gram adalah bayi prematur. Sedangkan bayi dismatur adalah bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari berat badan yang seharusnya untuk masa kehamilannya, yaitu berat badan dibawah persentil 0 pada kurva pertumbuhan intra uterin, bisa disebut dengan bayi kecil untuk masa kehamilan.
Ada tiga faktor yang menjadi penyebab kelahiran bayi BBLR, yakni faktor ibu yang meliputi toksemia gravidarum, yaitu preeklampsi dan eklampsi, kelainan bentuk uterus (misalnya uterus bikornis, inkompeten serviks), tumor (misalnya mioma utery, sistoma), ibu yang menderita penyakit seperti tifus abdominalis, malaria, TBC, penyakit jantung, serta gromerulonefritis kronis, juga adanya trauma pada masa kehamilan antara lain, baik fisik maupun psikologis. Faktor berikutnya adalah faktor janin yang meliputi kehamilan ganda, hidramnion, ketuban pecah dini, cacat bawaan, Infeksi (misalnya rubeoll, sifilis, toksoplasmosis), insufisiensi plasenta, Inkomptibilitas darah ibu dan janin ( faktor Rhessus, golongan darah A,B dan O). Faktor lainnya yaitu faktor plasenta, meliputi plasenta previa dan solutio plasenta.
Tanda klinis atau penampilan yang tampak sangat bervariasi, bergantung pada usia kehamilan saat bayi dilahirkan. Makin prematur atau makin kecil umur kehamilan saat dilahirkan makin besar pula perbedaannya dengan bayi yang lahir cukup bulan.
B. Saran
Penulis mengharapkan agar makalah ini dapat bermanfaat bagi kita, menambah ilmu pengetahuan serta wawasan bagi para pembaca khususnya bagi mahasiswa keperawatan, namun penulis menyadari makalah ini jauh dari kesempurnaan, maka penulis mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca demi perbaikan makalah selanjutnya.





























DAFTAR PUSTAKA

Surasmi, Asrining.2003.Perawatan Bayi Resiko Tinggi.Jakarta:EGC
Sacharin, Rosa M.1996.Prinsip Keperawatan Pediatrik.Jakarta:EGC
Ilyas, Jumarni.1994.Asuhan Keperawatan Perinatal.Jakarta:EGC
Doenges, Marilynn E.2001.Rencana Perawatan Maternal/Bayi : Pedoman untuk Perencanaan dan Dokumentasi Perawatan Klien.Jakarta:EGC
http://italina89.wordpress.com/2008/05/87/penyakit-pada-bayi-baru-lahir

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar